etnomusikologi 2011

etnomusikologi 2011
makrab '11

Rabu, 17 September 2014

Teater GERKATIN Solo “Berbeda Bukan Penghalang Berekspresi”

Teater GERKATIN Solo
“Berbeda Bukan
Penghalang Berekspresi”

Momentum sumpah pemuda telah sepekan lebih berlalu, kegiatan yang bertemakan peringatan bangkitnya “gairah” persatuan para pemuda bangsa tersebut digelar di berbagai tempat, baik oleh masyarakat pada umumnya maupun para kelompok atau gerakan – gerakan pemuda di tanah air. Seluruh pemuda negeri berbondong – bondong meneruskan semangat para pemuda dengan berbagai cara. Berkarya untuk bangsa, itulah angan yang mencambuk nurani para pemuda untuk terus memanjat tebing proses pencapaian asa. Berbagai kegiatan, ide, karya, aksi, dan sebagainya, bagi pemuda yang “sehat” secara fisik tentunya memungkinkan untuk berbuat berbagai hal di atas. Namun, bagaimana dengan saudara kita sesama pemuda yang oleh Tuhan dikaruniai fisik tidak sempurna? Dapatkah mereka menikmati atmosfer sumpah pemuda? Bagaimanakah mereka berbuat dalam ketidaksempurnaanya itu?

Secercah Harapan
Teater Gerakan Kesejahteraan Anak Tuna Runggu Indonesia (GERKATIN) merupakan wadah kreativitas pemuda Tuna Rungu Solo yang terbentuk pada 2009 lalu. Agung “Tompel” seorang sutradara yang mempelopori kelompok ini, berhasil mengantarkan para penyandang difabel Tuna Rungu Solo untuk berekspresi dan berkarya seni khusunya dalam bidang sandiwara. Terbentuknya kelompok teater ini tentunya adalah media yang cocok untuk sarana berekspresi dan ajang pembuktian kepada masyarakat bahwa merekapun dapat melakukan sesuatu yang bermakna, sarat nilai, dan berestetika tinggi.   
            Agus (23) seorang Tuna Rungu asli Solo, menyatakan bahwa saat awal terbentuknya kelompok, dia merasa khawatir. Perasaan yang lebih menjurus terhadap  keraguan akan kemampuan dirinya. Tentunya beberapa teman sesamanya juga merasa demikian, berprasangka ketidaksanggupan terhadap dirinya sendiri. Namun, berkat peran serta dari berbagai pihak terutama seperti teman – teman dari kelompok teater Peron FKIP UNS, Deaf Voluntering Organization (DVO), dan pengurus GERKATIN cabang Solo yang senantiasa andil memberikan sumbangan tenaga maupun pikirannya. Dengan penggemblengan yang tidak mudah, proses yang begitu lama terbayar dengan hasil yang luar biasa. seluruh anggota penyandang disabilitas tersebut dapat keluar dari belenggu ketidakmampuannya. Mereka berekspresi dengan begitu yakin, semangat, dan percaya diri. Decak kagum dari berbagai pihak terutama aktifis teater begitu mengapresiasi penampilan kelompok teater yang spesial ini.
            Wadah kreativitas yang sangat positif, menstimulan para pemuda ini untuk bangkit, semangat, serta dapat menjadikannya lebih berhasrat dalam menjalani kehidupan. Salah satu titik terang dimana eksistensi mereka penyandang difabel, khususnya para Tuna Rungu di Solo mulai melebar. Sayap yang sejak dulu terlipat kini mulai membentang membuka hendak mengepak menerjang angkasa. Momentum sumpah pemuda kini dapat mereka isi dengan ekspresi – ekspresi polos inspriratif yang selalu menggugah hati setiap penontonnya.

Sepak Terjang
Proses latihan yang dilakukan secara berkala dari pertama kali terbentuk termasuk bersama teman – teman kelompok Teater Peron UNS, telah menelurkan 3 kali pementasan. Pementasan tersebut pertama digelar bersama sutradara pelopor kelompok GERKATIN, pertunjukan Of Sign Theatre oleh komunitas mahasiswa Fakultas Psikologi UNS berjudul Sudo Ora Sudo di Teater Arena Taman Budaya Jawa Tengah (TBJT) Solo pada 4 April 2013,  serta menjadi bintang tamu dalam kegiatan Festival Sandiwara Realis Pelajar (FSRP) yang diselenggarakan oleh Himpunan Mahasiswa Teater ISI Surakarta (HIMATIS) pada 3 November 2013 dengan sajian yang berjudul “Dongempi” atau akronim dari Dongeng Negeri Mimpi sebagai penutup acara.
Dua sajian terakhir tidak lepas dari kerja keras Sandhi Wardhana sebagai seorang sutradara yang telah memoles para anggotanya menjadi pemain sandiwara dengan ekspresi yang sempurna. Kesabaran, semangat, dan tujuan besar membuat semua tim yang mendukung seolah melaminasi kelompok penyandang disabilitas ini. Peran para anggota DVO dalam memandu dan mendampingi terutama kaitannya dengan komunikasi, sangat membantu menjembatani kelancaran dalam proses latihan maupun saat eksekusi pertunjukan. Para Tuna Rungu pada akhirnya dapat mengeksplorasi kemampuannya untuk dinikmati khalayak.
Tiga bulan berproses dalam “Kawah Candradimuka” memang bukan suatu yang gampang. Dikatakan demikian karena proses yang berkala tersebut dilakukan untuk satu karya sajian. Hal di atas dapat kita tafsir bahwa kesulitan baik para pemain maupun sutradara dan segenap crew-nya. Terutama dalam hal sinkronisasi dari maksud sutradara dengan implementasi yang dihasilkan oleh setiap anggota teater GERKATIN. Adit (23) seorang anggota DVO asal Bantul mengemukakan pengalamannya ketika mendampingi, salah tangkap terhadap maksud si sutradara seolah menjadi makanan pokok dalam setiap proses latihan mereka. Namun kerja keras dan keyakinan kuat dari seluruh teman – teman difabel serta pendukungnya, sehingga satu demi satu karya dapat diselesaikan dengan cukup baik. Akhirnya tiga pentas terakhir berbuah apresiasi dan tepukan tangan meriah tanda kepuasan dari para penontonnya. Artikel – artikel baik media masa maupun elektronik pada akhirnya seperti mendifusikan informasi keberadaan kelompok “sandiwara ekspresi” tersebut di masyarakat.

 Ekspresi Jadi Kunci
Aksi pemain teater GERKATIN Solo yang memukau di atas panggung memang titik tekannya ialah dalam penyampaian nonverbal dilakukan dengan cara maksimal. Pada konteks ini peran sutradara memberi komando layaknya dirigen yang menentukan mobilitas dan tugas dari masing – masing pemain pada setiap babak jalannya sajian. Dalam penyajiannya, memang hadir musik untuk mengiringi pertunjukan. Namun, sebenarnya musik berperan mengisi suasana dalam perspektif yang hanya dirasakan oleh penonton ataupun apresiator. Memang saat jalannya pertunjukan seoloah – olah mereka mengikuti dan merasakan musik. terjadi pemandangan “semu” karena sebenarnya musik yang mengikuti setiap gerakan dalam babak sajian. Tidak seperti pertunjukan teater pada umunya, karena semua elemen penyaji yang saling berhubungan. Pada teater anak difabel, musik mendukung sajian para pemain untuk memperindah pertunjukan terhadap penonton, sedangkan para pemain teater hanya memproyeksikan ekspresi kepada penonton tanpa memperdulikan sajian musik. Memang hal logis, saat Tuna Rungu memang mempunyai permasalahan dengan pendengarannya.
Keluar dari permasalahan kekurangan dalam fisik, mereka memiliki satu “ajian” memukau yang dilakukan oleh seperangkat tubuh, energi, gerak total, dan yang paling tampak sekaligus vital ialah ekspresi total mereka. Runtutan komando yang dikirim oleh sutradara diimplementasikan oleh masing – masing para difabel dengan kemampuannya yang bisa dikatakan telah mencapai virtuositas pemeranan yang dapat disejajarkan bahkan tidak menutup kemungkinan lebih dengan para pemain teater yang notabene memiliki fisik normal. Ekspresi seperti menjadi taring dalam mengoyak decak kagum penonton, menjadi senjata pembunuh caci makian dari orang – orang yang tak mampu mendalami arti anugerah. Kini mereka yang secara fisik “kurang” menjawab setiap pertanyaan yang berhubungan dengan eksistensi mereka. Para difabel Tuna Rungu Solo menjadi lebih percaya diri pasca pembuktiannya lewat sajian – sajian ekspresi penuh nilai, baik tekstual maupun konteks. Dari fenomena di atas masyarakat serta pemerintah dapat menilai dan mengambil “buah” perenungan untuk dapat lebih memberikan solusi serta ide mutakhir lain dalam menambah wadah yang menampung kreativitas, untuk mencetak para penyandang disabilitas yang berprestasi untuk bangsa. Salah satu titik yang telah dibuktikan oleh teater Gerkatin Solo yaitu kekuatan ekspresi menuju sebuah totalitas dalam berkarya seni.

Denis Setiaji
Mahasiswa Etnomusikologi

ISI Surakarta

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar