etnomusikologi 2011

etnomusikologi 2011
makrab '11

Sabtu, 29 September 2012

REFERENSI ETNOMUSIKOLOGI


Pigeaud, Th..  Javaanse Volksvertoningen, Bijdrage tot De Beschrijving van Land en Volk. Batavia: Volkslectuur, 1939.  
Wade, Bonnie C. Thinking Musically: Experiencing Music, Expresing Culture. New York and Oxford: Oxford University. 2004
Clayton, Martin et all.(ed.). The Cultural Study of Music: a Critical Introduction. New York and London: Routledge
Kunst, Jaap. Music in Java. Its History, Its Theory and Its Technique. (2 vols.), The Hague: Nijhof, 1949.

Kunst, JaapHindu-Javanese Musical Instruments. The Hague: Nijhof. 1968.
Blacking, John. How Musical is Man?. Seattle: University of Washington Press. 1997.
Kartomi, Margaret J. On Concepts and Classifications of Musical Instruments. Chicago: University of Chicago Press. 1990. 
Wolbers, Paul Arthur. Account of an Angklung Caruk  July 28, 1985.
Wolbers, Paul  Arthur. "Gandrung and Angklung from Banyuwangi: Remnants of a Past Shared with Bali," Asian Music 18, 1 (Fall/Winter 1986): 71-90.
Sasaki, Mariko. Laras Pada karawitan Sunda. Bandung: P4ST UPI.
Pemberton, John. “Musical Politics in Central Java (or how not to Listen to Javanese Gamelan,” dalam Indonesia 44. 1987.
------------------- Jawa”, on the Subject of Java. Terj. Revianto Budi Santoso. Yogyakarta: Matabangsa, 2003.
Putra, Heddy Shri Ahimsa.  “Wacana Seni Dalam Antropologi Budaya: Tekstual, Kontekstual dan Post-Modernistis”,  dalam Ketika Orang Jawa Nyeni, ed. Heddy Shri Ahimsa Putra. Yogyakarta: Galang Press, 2000.
Suanda, Endo. “The Social Context of Cirebonese Performing Artists,” Asian Music 13 (1). 1981.
Supanggah, Rahayu. Bothekan Karawitan Surakarta: ISI Press Surakarta.
Sutton, R. Anderson. “Who Is the Pesindhèn? Notes on the Female Singing Tradition in Java,” Indonesia 37. 1984.
----------------------- “Variation and Composition in Java”, Yearbook for Traditional Music 19. 1987. hlm. 65-95.
----------------------- “Semang and Seblang: thought on music, dance, and the sacred in Central and East Java.” dalam Bernard Arps (ed.), Performance in Java and Bali: Studies of Narrative, Theatre, Music, and Dance. London: University of London, 1993.
------------------------   “Individual Variation in Javanese Gamelan Performance”,   The Journal of Musicology 6(2). 1988. hlm.169-197.
------------------------- “Interpreting Electronic Sound Technology in the Contemporary Javanese Soundscape,” dalam  Ethnomusicology, Vol. 40(2), 1996. hlm. 249-268.
------------------------------, “Discover Indonesia: Selections from the 20-CD series by Philip Yampolsky,”  Asian Music 33, No 1(Autum 2001-Winter 2002), hlm. 141-143.

Minggu, 09 September 2012


SANGHYANG TIKORO: DANAU PURBA BANDUNG JEBOL DAN LEGENDA SANGKURIANG

  
Oleh:
Denis Setiaji
Etnomusikologi

FAKULTAS SENI PERTUNJUKAN
INSTITUT SENI INDONESIA SURAKARTA
2012


Sanghyang Tikoro merupakan salah satu tempat yang berunsur cerita foklor di Bandung Jawa Barat yang menyimpan banyak misteri dan pertanyaan di masyarakat. Gua purba Sanghyang Tikoro masih belum banyak diketahui masyarakat Indonesia, bahkan masyarakat Jawa Barat pun banyak yang belum mengenal cerita mengenai Sanghyang Tikoro. Oleh karena itu penelitian emik sebagai langkah awal penulis dalam mempelajari foklor khususnya pada cerita Sanghyang Tikoro perlu diangkat untuk menambah pengetahuan kita akan foklor nusantara yang banyak dan beragam. Selain itu penulis juga ingin mengetahui secara emik, artinya bagaimana cara pandang masyarakat terhadap cerita atau mitos yang berkaitan dengan Sanghyang Tikoro.
Adapun cara mendapatkan data dari penelitian emik, menggunakan metode observasi dan wawancara terhadap narasumber dilapangan sebagai landasan dasar bahan analisis untuk kemudian dikembangkan dalam bentuk tulisan. Narasumber dimintai keterangan mengenai apa yang mereka fikir dan mereka pandang dari adanya fenomena Sanghyang Tikoro. Selain itu, penulis juga mengutip informasi tambahan media internet yang dinilai dapat melengkapi serta memberi bobot lebih terhadap tulisan ini.

Sangkuriang dan Sanghyang Tikoro
Sanghyang Tikoro merupakan legenda masyarakat pajajaran berkaitan dengan asal mula terbentuknya Bandung raya. Sanghyang Tikoro adalah sebuah lubang atau gua tempat mengalirnya air menuju sungai citarum. Lubang tersebut dalam legenda masyarakat dipercaya sebagai tempat jebolnya danau Bandung purba. Danau Bandung purba yang sebelumnya penuh dengan air menjadi surut kemudian terbentuklah Bandung.
Kata Sanghyang Tikoro dalam bahasa pewayangan sunda, sanghyang artinya dewa sedangkan tikoro artinya kerongkongan. Bila diarti katakan Sanghyang Tikoro adalah dewa kerongkongan. Belum ada alasan pasti kenapa masyarakat menamai lobang aliran air dekat danau saguling tersebut dinamai Sanghyang Tikoro.
Legenda Sangkuriang awalnya merupakan tradisi lisan. Rujukan tertulis mengenai legenda ini ada pada naskah Bujangga Manik yang ditulis pada daun palem dan berasal dari akhir abad ke-15 atau awal abad ke-16 Masehi. Dalam naskah tersebut, ditulis bahwa Pangeran Jaya Pakuan atau Pangeran Bujangga Manik alias Ameng Layaran mengunjungi tempat-tempat suci agama Hindu di Pulau Jawa dan Pulau Bali pada akhir abad ke-15. Setelah melakukan perjalanan panjang, Bujangga Manik tiba ditempat yang sekarang menjadi Kota Bandung. Dia boleh disebut sebagai saksi mata yang pertama kali menuliskan nama tempat ini bersama legendanya (udugudug.wordpress.com).
Setelah melakukan perjalanan panjang, Bujangga Manik tiba di tempat yang sekarang menjadi kota Bandung . Dia menjadi saksi mata yang pertama kali menuliskan nama tempat dan legendanya. Laporannya adalah sebagai berikut:
Leumpang aing ka baratkeun (Aku berjalan ke arah barat)
Datang ka Bukit Patenggeng (kemudian datang ke Gunung Patenggeng)
Sakakala Sang Kuriang (tempat legenda Sang Kuriang)
Masa dek nyitu Ci tarum (Waktu akan membendung Citarum)
Burung tembey kasiangan (tapi gagal karena kesiangan)
(wikipedia, 27 Juni 2012, pkl 21.35)

Di masyarakat, Sanghyang Tikoro sering dikaitkan dengan legenda Sangkuriang-dayang sumbi. Cerita Sangkuriang merupakan legenda sasakala terbentuknya gunung tangkuban perahu, gunung burangrang, gunung manglayang, dan Sanghyang Tikoro. Tempat-tempat tersebut terbentuk akibat murkanya Sangkuriang karena tidak dapat menyelesaikan bendungan serta perahu besar dalam waktu satu malam sebagai syarat untuk menikahi dayang sumbi atau ibunya sendiri.
Cerita Sangkuriang sudah tidak asing lagi di telinga masyarakat Indonesia. Sangkuriang merupakan ksatria sakti mandraguna yang mencintai dan ingin menikahi ibunya sendiri yaitu dayang sumbi. Namun dayang sumbi tau bahwa hal seperti itu tidak boleh dilakukan maka untuk menggagalkan pernikahan tersebut dia memberikan beberapa syarat berat. Sangkuriang harus membuat bendungan dan sampan besar yang harus diselesaikan dalam waktu semalam. Karena Sangkuriang sangat sakti tentunya syarat tersebut dia sanggupi. Sangkuriang dibantu para jin dan mahkluk halus lainnya mengerjakan syarat tersebut. Dayang sumbi pun menjadi cemas dan takut Sangkuriang dapat menyelesaikan syarat yang diberikannya. Dayang sumbi pun berdoa kepada sanghyang widi agar Sangkuriang digagalkan.  Akhirnya Sangkuriangpun gagal dalam mengerjakan syaratnya.
Ketika fajar menyingsing di ufuk timur, Sangkuriang menjadi gusar dan di puncak kemurkaannya bendungan yang ada di Sanghyang Tikoro di jebolnya, sumbat aliran sungai citarum yang di buatnya dilemparkan ke arah timur menjadi gunung manglayang, ranting-ranting yang digunakan untuk membuat bendungan dilemparkan ke utara menjadi gunung burangrang, perahu yang dikerjakannya dengan bersusah payah semalaman dia tendang ke arah utara sehingga terbentuklah gunung tangkuban perahu.
Dilihat dari cerita Sangkuriang, Sanghyang Tikoro adalah akibat dari murkanya Sangkuriang sehingga danau Bandung purba jebol dan surut menjadi daratan. Konon tempat-tempat diatas sering digunakan orang-orang tertentu untuk menimba “ilmu” tertentu. Seperti halnya Sanghyang Tikoro yang terletak antara kecamatan Rajamandalala dan kecamatan Cipatat, Kabupaten Bandung Barat. Sangyang tikoro berada disamping PLTA Saguling sekitar 17km dari pusat bendungan dan berada diwilayah turbin terakhir. Memang tempatnya agak tersembunyi sehingga jarang banyak orang yang mengetahui langsung bagaimana bentuk Sanghyang Tikoro. Karena dianggap keramat tidak satupun tangan orang jahil yang berani merusaknya.

Pandangan dari Masyarakat Sekitar
Menurut beberapa narasumber yang berdomisili di sekitar wilayah Rajamandalala, mereka memiliki pendapat yang beragam. Ada yang berpendapat menuju titik dari benang merah cerita masyarakat pada umumnya adapula yang tidak percaya mengenai legenda Sanghyang Tikoro serta mitos-mitos yang berkembang disekitarnya. Narasumber ada yang mengemukakan mengenai larangan-larangan terhadap Sanghyang Tikoro, kemudian mengenai orang-orang sakti yang kehidupannya sempat berkaitan dengan keberadaan Sanghyang Tikoro dan ada pula yang berpendapat mengenai asal-mula Sanghyang Tikoro berdasarkan cerita rakyat namun sebenarnya tidak begitu percaya dengan mitos tersebut.
Narasumber pertama dalam interview yaitu Dasman (40 tahun) menyebutkan,
                 “ Sanghyang Tikoro mah tikapungkur oge tos aya, malihan waktos Bandung masih cai hungkul oge tos aya nanging tacan  ageung. Lami-lami mereun da teras weh ka gorogotan ku cai nga ageungan, janten weh saalit-saalit Bandung nu pinuh cai teh nyaatan. Perkawis Sanghyang Tikoro teh aya hubunganna sareng carita Sangkuriang wallahualam eta mah namina oge dongeng. Ari abdi mah teu patos percanten kanu kitu. Cenah ceuk beja didinya teh ulah sagawayah atanapi kumaha, intinamah eta teh salah sawios kaendahan tigusti nu ku urang salaku manusa kedah dijaga, dirawat, supaya kaendahana tetep ka jagi. Enyage ayeuna tos rada karuksak ku aliran cai limbah ti pabrik-pabrik palebah hulu Citarum”



Dalam bahasa Indonesia artinya,“Sanghyang Tikoro telah ada sejak dulu, bahkan ketika Bandung masih air semua telah ada tetapi masih kecil (lubang Sanghyang Tikoro). Lama-kelamaan sepertinya terus terkikis oleh air, kemudian membesar. Jadi sedikit demi sedikit Bandung yang penuh dengan air menjadi surut. Kaitan Sanghyang Tikoro dengan cerita Sangkuriang itu wallahualam namanya juga dongeng. Saya sendiri tidak terlalu percaya hal tersebut. Kata orang ditempat itu tidak boleh “sembarangan”(dalam berprilaku, berucap dsb). intinya itu(Sanghyang Tikoro) merupakan salah satu keindahan yang dari tuhan yang oleh kita sebagai manusia harus dijaga, dirawat, supaya keindahannya tetap terjaga. Walaupun sekarang sudah sedikit tercemari oleh aliran air limbah pabrik-pabrik dari arah hulu Citarum”.
Narasumber pertama mengutarakan bahwa lubang gua purba Sanghyang Tikoro memang telah ada sejak lama namun masih kecil. Memang belum jelas pula waktu tepatnya, karena ia juga hanya mendapat informasi secara turun-temurun menurut rumor yang ada di masyarakat. Sebelum menjadi gua purba, Sanghyang Tikoro memiliki ukuran yang tidak terlalu besar, ia percaya bahwa lobang tersebut terjadi karena terkikis oleh air kemudian membesar. Disini juga masih kurang ada kejelasan mengenai air yang mengikis tersebut berasal. Memang secara logika pernyataan tersebut masuk akal, karena air dapat mengikis tanah bahkan jenis batuan. Namun dalam pernyataan selanjutnya ia menganggap bahwa Sanghyang Tikoro dengan cerita Sangkuriang tersebut diragukan ke benarannya, karena hanya sebuah cerita rakyat sunda yang mengalir di seluruh palung hati masyarakat Bandung pada umumnya. Ia juga menyebut bahwa di Sanghyang Tikoro menurut mitos yang berkembang disekitar, orang yang mendatangi kawasan tersebut, tidak boleh sembarangan dalam berprilaku, berkata-kata, dan sebagainya yang dianggap dapat membahayakan keselamatan jiwa dari orang yang bersangkutan. Dalam hal ini yang membahayakan adalah mahkluk-mahkluk lain (ghaib) penjaga atau yang mendiami disekitar Sanghyang Tikoro.  Diakhir dia berpesan bahwa yang harus diutamakan adalah tugas manusia untuk menjaga keindahan alam anugerah sang kuasa.
Narasumber kedua adalah Tatang Supriyatna seorang pegawai perkebunan di PTPN gunung halu, tetapi berdomisili di Rajamandalala. Ia berpendapat mengenai Sanghyang Tikoro dibawah ini:

                 “ilaharna di Sanghyang Tikoro, daerah Sanghyang Tikoro mah teu kengeng sangeunahna dina ucapan, sikep, margi seueur istilahna anu jail ka jelema anu henteu ngajaga ka dirina. Seueur oge pami dinten anu di anggep sakral aya nu tarapa, boh nu hoyong kengeng elmu, jeung sajabana da bapa ge teu patos terang. Pami kalebetan nyere atanapi bulu, buuk cenah mah sok aya sora ngajerit di jero Sanghyang Tikoro teh. Tapi da bapa oge salami linggih didieu tacan pernah ngadangu sora kitu”.


Arti dalam bahasa Indonesia adalah,”Biasanya di Sanghyang Tikoro, daerah Sanghyang Tikoro itu tidak boleh sembarangan dalam ucapan, sikap, karena banyak istilahnya yang jail pada orang yang tidak bisa menjaga terhadap diri sindiri. Banyak juga apabila dalam hari yang dianggap sakral ada yang bertapa, ada yang menginginkan mendapatkan “ilmu”, dan sebagainya karena saya juga kurang tahu. Bila masuk(kedalam Sanghyang Tikoro) sebatang lidi atau bulu, rambut, sering ada suara menjerit di dalam Sanghyang Tikoro. Tapi bapak juga selama menetap disini belum pernah mendengar suara tersebut”.

Ia beranggapan bahwa orang yang datang ke sekitar Sanghyang Tikoro tidak boleh bertingkah(negatif) seenaknya karena sering ada mahkluk jail yang akan membuat celaka pada orang itu. Pendapat tersebut memang mirip dengan narasumber pertama namun perbedaannya, narasumber kedua sepertinya lebih percaya terhadap mitos yang beredar di masyarakat. Ada informasi yang mirip dengan artikel yang penulis unduh dari website, bahwa bila masuk sebatang lidi dan sehelai rambut saja kedalam Sanghyang Tikoro maka akan terdengar suara jeritan dari dalam lobang tersebut. Namun, ia sendiri belum pernah mengalami  langsung fenomena mistis yang ada di gua purba tersebut.
Narasumber terakhir yang penulis temui yaitu Dadin Tarmana seorang pedagang jajanan warung dan berdomisili asli desa Saguling. Dari hasil wawancara dengannya penulis mendapat informasi yang belum pernah ditemukan di website dan sumber lainnya. Informasi tersebut berkenaan dengan penjaga Sanghyang Tikoro yang merupakan utusan raja. Ia mengatakan,
“Sanghyang Tikoro teh jang kapungkur mah sok aya jelema  nu ngajagi, salah sawiosna raden hyang. Tah dipalih tonggoh oge aya tempat kanggo ziarah ka raden hyang teh. Biasanamah sok seueur nu jarah kadinya teh. Aya oge nu dongkap kadinya teh gaduh niatan teu leres jang. Naon weh da rupi-rupi kahoyong jelema mah. Tah kapungkur raden hyang teh ceuk kolot baheula mah utusan raja pikeun ngajaga daerah sabudeureun Rajamandalala kalebet Sanghyang Tikoro oge.

Sanghyang Tikoro itu dik dahulu suka ada orang yang menjaga, salah satunya raden hyang. Di ujung atas(arah barat daya) juga ada situs dan tempat untuk berziarah kepada raden hyang. Biasanya banyak yang berziarah ke sana. Adapula yang datang kesana punya niat yang kurang baik. Apapun karena keinginan manusia itu macam-macam. Menurut orang tua zaman dulu raden hyang adalah utusan raja untuk menjaga daerah sekeliling Rajamandalala termasuk Sanghyang Tikoro.

Dadin menegaskan bahwa daerah Sanghyang Tikoro dan sekitarnya pada zaman dulu memiliki penjaga bernama raden hyang. Raden Hyang disebut sebagai utusan dari raja, apakah mungkin Prabu Siliwangi? Mungkin saja karena Rajamandalala merupakan daerah kekuasaan dari kerajaan Pajajaran. Situs dan tempat untuk berziarah kepada Raden Hyang pun letaknya tidak jauh dari Sanghyang Tikoro, kurang lebih sekitar 800 meter. Ada informasi pula bahwa beberapa orang datang berziarah dengan maksud-maksud tertentu. Akan tetapi informasi mengenai Raden Hyang belum begitu jelas. Apakah dia benar sebagai penjaga?atau mungkin punya tujuan lain? Wallahualam
Ketiga pendapat diatas merupakan sampel dari pikiran dan pengetahuan yang ada di masyarakat dalam  memandang Sanghyang Tikoro. Perlu disampaikan pula, bahwa bagaimanapun perbedaan mereka berasumsi, entah itu positif ataupun negatif,  rasa bangga karena telah memiliki Sanghyang Tikoro sebagai situs gua purbakala serta segenap cerita foklor yang ada dibalik ke indahannya tetap ada dalam jiwa setiap narasumber khususnya dan masyarakat Bandung pada umumnya.
Pada waktu-waktu tertentu menurut masyarakat sekitar banyak orang yang terlihat sedang bertapa disekitar Sanghyang Tikoro. Di masyarakat pula terdapat beberapa mitos seperti apabila kedalam lobang Sanghyang Tikoro dibuang sebatang lidi atau sehelai rambut maka akan terdengar suara jeritan yang sangat pilu ketika hal itu terjadi masyarakat mempercayai bahwa Bandung akan tenggelam dan kembali menjadi danau kemudian ada pula yang menyebutkan bahwa segala apapun yang masuk kedalam lobang Sanghyang Tikoro semisal batu atau kayu akan hancur. Mungkin ini salah satu alasan mengapa dinamakan Sanghyang Tikoro (tikoro merupakan organ tempat masuknya segala macam makanan dan pasti akan hancur dicerna). Hal tersebut mungkin terjadi dengan struktur lobang gua yang berbatu dan tidak rata sehingga, benda seperti kayu saat terbawa derasnya air, akan berbentura dengan batuan di dinding gua.


Bandung Menurut Aspek Ilmu Geologi
Hingga sekarang belum ada satupun orang yang berani masuk kedalam gua Sanghyang Tikoro sehingga tidak ada yang berani memastikan berapa panjang gua Sanghyang Tikoro tersebut. Ada yang menyebutkan panjangnya mencapai 800 meter. Konon air yang masuk ke dalam Sanghyang Tikoro tidak seluruhnya mengalir kembali ke sungai citarum, tapi sebagian masuk kedalam tanah. Karena itulah orang menyamakannya dengan tikoro. Jelas sekali terjadi perbedaan pendapat tentang asal muasal terbentuknya Sanghyang Tikoro, gunung tangkuban perahu, gunung burangrang versi cerita Sangkuriang dengan hasil ilmu pengetahuan. Versi ilmiah hasil penelitian ahli geologi, Sanghyang Tikoro, gunung tangkuban perahu, dan gunung burangrang terbentuk akibat meletusnya Gunung Sunda. Sekitar 20-30 juta tahun yang lalu daerah tersebut adalah terumbu karang indah dengan kedalaman sekitar 10-20 meter. Terbentuknya gua bawah tanah tersebut membuktikan bagaimana hebatnya proses erosi yang dilakukan aliran Citarum hingga mampu melubangi batuan kapur yang keras(historiology.com).
Dahsyatnya letusan mengakibatkan seluruh permukaan badannya hancur tak bersisa. Setelah letusan, yang tersisa  hanyalah lubang-lubang lekukan yang dalam dengan muntahan laharnya yang sangat panas. Karena banyaknya mengeluarkan lahar panas, menyebabkan sungai didaerah Batujajar, Cililin, dan Padalarang tertimbun dan berubah menjadi lahar dingin. Lama kelamaan menggunung dan membentuk sebuah telaga yang kemudian populer dengan sebutan Talaga Bandung.
Tanah di Padalarang dan Cililin umumnya mengandung kapur. Namun sedikit demi sedikit akhirnya terkikis membentuk lubang aliran yang kelak dikenal dengan Sanghyang Tikoro. Menurut para Geolog di Bandung, sebenarnya Sanghyang Tikoro adalah sebuah gua yang berbahan dasar batu gamping yang bagian bawahnya dilalui aliran air sungai Citarum yang deras. Banyak orang percaya bahwa gua ini adalah tempat bobolnya Danau Bandung Purba. Padahal dalam buku Geowisata Sejarah Bumi Bandung yang ditulis T.Bachtiar bersama rekan-rekan dari Riset Cekungan Bandung, menyatakan bahwa bobolnya danau tersebut bukan di sini melainkan di daerah Pasir Kiara dan Pasir Larang.

Sangkuriang dan Falsafah Sunda
Dalam satu artikel yang penulis dapatkan dari suatu website, berisi mengenai makna filosofos serta falsafah dari cerita Sangkuriang termasuk didalamnya Sanghyang Tikoro. Menurut abah Surya atau abah Hidayat Suryalaga, mantan Rektor Itenas Bandung, legenda atau sasakala Sangkuriang dimaksudkan sebagai cahaya pencerahan (Sungging Perbangkara) bagi siapa pun manusianya (tumbuhan cariang) yang masih bimbang akan keberadaan dirinya dan berkeinginan menemukan jatidiri kemanusiannya (Wayungyang). Hasil yang diperoleh dari pencariannya ini akan melahirkan kata hati (nurani) sebagai kebenaran sejati (Dayang Sumbi, Rarasati). Tetapi bila tidak disertai dengan kehati-hatian dan kesadaran penuh/eling (teropong), maka dirinya akan dikuasai dan digagahi oleh rasa kebimbangan yang terus menerus (digagahi si Tumang) yang akan melahirkan ego-ego yang egoistis, yaitu jiwa yang belum tercerahkan (Sangkuriang). Ketika Sang Nurani termakan lagi oleh kewaswasan (Dayang Sumbi memakan hati si Tumang) maka hilanglah kesadaran yang hakiki. Rasa menyesal yang dialami Sang Nurani dilampiaskan dengan dipukulnya kesombongan rasio Sang Ego (kepala Sangkuriang dipukul). Kesombongannya pula yang mempengaruhi “Sang Ego Rasio” untuk menjauhi dan meninggalkan Sang Nurani. Ternyata keangkuhan Sang Ego Rasio yang berlelah-lelah mencari ilmu (kecerdasan intelektual) selama pengembaraannya di dunia (menuju ke arah Timur). Pada ahirnya kembali ke barat yang secara sadar maupun tidak sadar selalu dicari dan dirindukannya yaitu Sang Nurani (Pertemuan Sangkuriang dengan Dayang Sumbi).
Walau demikian ternyata penyatuan antara Sang Ego Rasio (Sangkuriang) dengan Sang Nurani yang tercerahkan (Dayang Sumbi), tidak semudah yang diperkirakan. Berbekal ilmu pengetahuan yang telah dikuasainya Sang Ego Rasio (Sangkuriang) harus mampu membuat suatu kehidupan sosial yang dilandasi kasih sayang, interdependency – silih asih-asah dan silih asuh yang humanis harmonis, yaitu satu telaga kehidupan sosial (membuat Talaga Bandung) yang dihuni berbagai kumpulan manusia dengan bermacam ragam perangainya (Citarum). Sementara itu keutuhan jatidirinya pun harus dibentuk pula oleh Sang Ego Rasio sendiri (pembuatan perahu). Keberadaan Sang Ego Rasio itu pun tidak terlepas dari sejarah dirinya, ada pokok yang menjadi asal muasalnya (Bukit Tunggul, pohon sajaratun) sejak dari awal keberada-annya (timur, tempat awal terbit kehidupan). Sang Ego Rasio pun harus pula menunjukkan keberadaan dirinya (tutunggul, penada diri) dan pada akhirnya dia pun akan mempunyai keturunan yang terwujud dalam masyarakat yang akan datangd dan suatu waktu semuanya berakhir ditelan masa menjadi setumpuk tulang-belulang (gunung Burangrang).
Betapa mengenaskan, bila ternyata harapan untuk bersatunya Sang Ego Rasio dengan Sang Nurani yang tercerahkan (hampir terjadi perkawinan Sangkuriang dengan Dayang Sumbi), gagal karena keburu hadir sang titik akhir, akhir hayat dikandung badan (boeh rarang atau kain kafan). Akhirnya suratan takdir yang menimpa Sang Ego Rasio hanyalah rasa menyesal yang teramat sangat dan marah kepada “dirinya”. Maka ditendangnya keegoisan rasio dirinya, jadilah seonggok manusia transendental tertelungkup meratapi kemalangan yang menimpa dirinya (Gunung Tangkubanparahu).
Walau demikian lantaran sang Ego Rasio masih merasa penasaran, dikejarnya terus Sang Nurani yang tercerahkan dambaan dirinya (Dayang Sumbi) dengan harapan dapat luluh bersatu antara Sang Ego Rasio dengan Sang Nurani. Tetapi ternyata Sang Nurani yang tercerahkan hanya menampakkan diri menjadi saksi atas perilaku yang pernah terjadi dan dialami Sang Ego Rasio (bunga Jaksi).
Akhir kisah yaitu ketika datangnya kesadaran berakhirnya kepongahan rasionya (Ujungberung). Dengan kesadarannya pula, dicabut dan dilemparkannya sumbat dominasi keangkuhan rasio (gunung Manglayang). Maka kini terbukalah saluran proses berkomunikasi yang santun dengan siapa pun (Sanghyang Tikoro atau tenggorokan; B.Sunda: Hade ku omong goreng ku omong). Dan dengan cermat dijaga benar makanan yang masuk ke dalam mulutnya agar selalu yang halal bersih dan bermanfaat. (Sanghyang Tikoro = kerongkongan, genggerong).
Kesimpulan
Sanghyang Tikoro merupakan situs gua purba kala yang banyak menyimpan cerita di balik keunikan dan keeksotisnya. Salah satunya adalah kaitan dengan legenda murkanya Sangkuriang serta hubungan jebolnya danau purba Bandung.  Mitos-mitos yang mengiringi pun beragam dari mulai mahkluk-mahkluk gaib yang akan mencelakai orang tidak sopan sampai suara jeritan yang terdengar apabila sehelai rambut masuk ke dalam lobang tersebut. Namun, secara hukum berpikir benar hal tersebut kurang masuk nalar. Cerita tentunya membuat banyak pertanyaan dalam benak kita, tetapi pertanyaan yang paling penting apakah kita sebagai manusia dapat menyelami makna dari fenomena foklor yang terjadi? Apa tujuannya foklor tersebut? Serta adakah manfaat yang dapat kita ambil dari symbolic advice yang di buat oleh para nenek moyang kita?


Dalam ilmu Antropologi manusia disebutkan sebagai animal symbolicum, artinya manusia adalah mahkluk yang selalu menggunakan simbol. Tak terkecuali cerita foklor di Sanghyang Tikoro. Hampir dipastikan bahwa cerita tersebut merupakan salah satu simbol untuk kepentingan tertentu yang hubungannya dengan kehidupan manusia. Diperlukan penelitian lebih mendalam atau secara etik untuk mengungkap lebih dalam cerita dibalik Sanghyang Tikoro.
Sebagai mahkluk tuhan tentunya segala sesuatu kita kembalikan kepada-Nya, sang indah sang kuasa atas segala sesuatu di dunia ini. Khususnya fenomena keindahan, keangkeran, serta kewibawaan situs gua puba Sanghyang Tikoro wajib disyukuri dengan pikir dan tindakan. Tentunya tindakan kita sebagai manusia yaitu menjaga agar alam tidak selalu dieksploitasi oleh tangan manusia sendiri untuk kepentingan yang bersifat pragmatis.














Sumber:
Historiology.bolgspot.com
Udug-udug.com
Wikipedia.com

Rabu, 23 Mei 2012

bangunan ilmu


Selasa, 22 Mei 2012

Sejarah dan nilai tembang Cianjuran





KARYA TULIS ILMIAH
UJIAN AKHIR SEMESTER GANJIL
BAHASA INDONESIA
”SEJARAH DAN NILAI PADA SENI TEMBANG CIANJURAN”


Dosen Pengampu : Ana Rosmiati

Oleh
Denis Setiaji
11112115
ETNOMUSIKOLOGI 2011



INSTITUT SENI INDONESIA SURAKARTA


BAB l
                                                              PENDAHULUAN
1.1 PENDAHULUAN          
            Dewasa ini di dunia, popularitas dari musik art barat memang tidak dapat dipungkiri lagi sangatlah berkembang pesat. Musik art barat seakan – akan kiblat utama dari musik khususnya untuk para generasi muda. Tak terkecuali generasi muda Indonesia, mereka begitu mengelu-elukan musik genre barat. Hal ini menyebabkan  banyak yang mulai melupakan tradisi – tradisi musik daerah yang merupakan jati diri bangsa. Musik barat telah dianggap lebih indah dan bermakna sesuatu untuk setiap penikmatnya. Seiring dengan hal diatas tentunya berbanding terbalik dengan keyataan terhada eksstensi seni tradisi kita yang lambat laun mulai sedikt dilupakan. Tak terkecuali seni Tembang Cianjuran yang kita miliki, eksistensnya pun sedah mulai terkikis. Tembang Cianjuran dianggap musik yang kuno, membosankan,dan kurang modern. Namun sebenarnya banyak nilai-nilai luhur dalam Tembang Cianjuran yang tentu tidak terdapat dalam music art barat.
            Tembang Cianjuran merupakan cita rasa sunda yang menjadi ciri bangsa Indonesia dan memiliki estetika tidak kalah dengan musik art barat. Disamping itu, juga memiliki nilai-nilai luhur yang mungkin tidak dimiliki oleh music art barat. Nilai-nilai luur inilah yang harus dipelihara dan lestarikan. Apabila diresapi banyak sekali pelajaran yang dapat diambil dari penyajian teks tembang.


1.2 PERUMUSAN MASALAH
1.2.1 Bagaimanakah sejarah Tembang Cianjuran?
1.2.2 Bagaimanakah nilai-nilai yang terkandung dalam rumpaka Tembang Cianjuran?


1.3 TUJUAN
            1.3.1 mendeskripsikan sejarah Tembang Cianjuran.
            1.3.2 menemukan nilai-nilai estetik dalam rumpaka Tembang Cianjuran.
1.4 MANFAAT
            Manfaat praktis
            Masyarakat dapat lebih memahami unsur-unsur estetik dari musik maupun rumpaka Tembang Cianjuran.
            Manfaat teoritis
            Menambah informasi terhadap kajian Tembang Cianjuran mengenai estetika Tembang Cianjuran.
1.5 PENEGASAN JUDUL
            Karya tulis ini mengarah kepada mendeskripsikan Tembang Cianjuran, mengkaji nilai-nilai yang terkandung dalam rumpaka serta mendeskripsikan historis dari Tembang Cianjuran.
1.6 HIPOTESIS
            1.6.1 Tembang Cianjuran merupakan lokal genius yang telah ada sejak masa lampau.
            1.6.2 Rumpaka pada Tembang Cianjuran berisi nilai-nilai yang mengarah kepada kebajikan.
1.7 SISTEMATIKA PENYAJIAN
            Sistematika penyajian karya tulis ini sebagai berikut:


BAB I
PENDAHULUAN
1.1 PENDAHULUAN          
1.2 PERUMUSAN MASALAH
1.3 TUJUAN
1.4 MANFAAT
1.5 PENEGASAN JUDUL
1.6 HIPOTESIS
1.7 SISTEMATIKA PENYAJIAN
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA DAN METODE PENELITIAN
2.1 TINJAUAN PUSTAKA
2.2 LANDASAN TEORI
BAB III
METODE PENELITIAN
3.1 PENGUMPULAN DATA
3.2 ANALISIS DATA
3.3 PENYAJIAN HASIL ANALISI DATA
BAB IV
SEJARAH TEMBANG CIANJURAN
BAB V
NILAI-NILAI DALAM RUMPAKA TEMBANG CIANJURAN
BAB VI
PENUTUP
6.1 KESIMPULAN
6.2 SARAN
DAFTAR PUSTAKA
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA DAN METODE PENELITIAN
2.1 TINJAUAN PUSTAKA
            Tembang Cianjuran dewasa ini sering dibicarakan oleh pakar-pakar budaya khususnya budayawan sunda. Banyak juga yang sudah mengkaji serta menjadikan tulisan baik artikel, skripsi, disertasi, bahkan buku. Seperti yang telah di tulis oleh Kalsum “Nasihat dan Doa dalam Rumpaka Tembang Cianjuran”. Selain itu tentang Tembang Cianjuran juga diulas dalam buku berjudul “ Gending Sekar” karya iwan natapradja(2003). Iwan natapradja(2003) mengulas tentang kesenian kasundaan dari mulai patet, notasi degung, sistem penotasian dan segala bentuk pakem musik tradisi karawitan sunda serta kesenian-kesenian lain yang bercabang dari pakem karawitan termasuk didalamnya Tembang Cianjuran.
2.2 LANDASAN TEORI
Landasan teori yang digunakan dalam karya tulis ini diambil dari beberapa pendapat para penulis yang telah mengkaji historis dan rumpaka Tembang Cianjuran. Galba(2007) mengemukakan kesenian tradisional masyarakat Cianjur berikut sejarah seni mamaos berganti nama menjadi Tembang Cianjuran. Berkaitan dengan itu pula pergantian nama seni mamaos merupakan hasil perundingan masyarakat pasundan pada masa pemerintahan dalem pancaniti. Kalsum(2007) mengkaji isi rumpaka dari Tembang Cianjuran yang berisi nasihat serta doa baik yang kaitannya dengan manusia (hablum minannas) maupun dengan tuhan yang maha kuasa (hablum minallah). Kalsum juga mengemukakan bahwa rumpaka nasihat dan doa terdapat 14,5% dari jumlah lagu; dilihat dari sejarah sastra maupun sejarah tembang.





BAB III
METODE PENELITIAN
3.1 PENGUMPULAN DATA
            Data-data perumusan karya tulis ini dikumpulkan melalui studi pustaka. Informasi diambil dari buku primer dan makalah serta media informasi internet sebagai referensi tambahan.
3.2 ANALISIS DATA
            Analisis data dilakukan pada bab pokok bahasan berikutnya.
3.3 PENYAJIAN HASIL ANALISI DATA
Penyajian hasil analisis data dilakukan secara deskriptif dari tataran yang terendah sampai yang tertinggi. Pemaparan hasil analisis data dilakukan dengan dua cara, yaitu menggunakan metode formal dan metode informal. Bentuk pemaparan dengan metode formal, yaitu menuliskan hasil analisis dengan cara menuliskan dengan kalimat secara ortografis serta digunakan lambang-lambang atau kode-kode dalam linguistik. Bentuk pemaparan dengan menggunakan metode informal, yaitu menuliskan dengan kata-kata dan kalimat ortografis tanpa menggunakan lambang-lambang atau kode-kode tertentu.








BAB IV
SEJARAH TEMBANG CIANJURAN
  • Sekar
            Sekar merupakan seni suara dari vokal manusia (janaswara).  Sekar dibagi menjadi dua golongan utama yang menjadi dua tiangnya seni suara sunda. Seluruh perbendaharaan seni suara termasuk kedalam dua golongan ini. Kedua golongan besar itu adalah Sekar tandak dan Sekar Wirahma merdeka.
            Sekar tandak merupakan jenis lagu yang memiliki irama atau ritme yang tetap (tandak  artinya tetap) dalam istilah art barat disebut rhythmical song. Sekar tandak dalam istilah popular disebut kawih. Tembang Cianjuran termasuk kedalam golongan keluarga lagu sekar tandak karena pola lagunya memiliki irama (Wirahma) atau ketukan yang tetap. Sekar tandak biasa dibawakan secara anggana (solo vokal) dan secara rampak sekar (vokal grup). Contoh penyajian sekar tandak misalnya pada Tembang Cianjuran, gending karesmen, panambih pada pupuh, sindhenan serta jenis kakawihan lainnya.
            Sekar wirahma merdeka adalah golongan lagu yang tidak memiliki ketukan, berirama bebas tetapi ada aturan panjang-pendek tertentu yang tidak bisa dituliskan dengan sistem titilaras[1] atau secara pakem dalam karawitan sunda. Penentuan panjang-pendeknya satu nada hanya bisa diajarkan secara lisan verbal atau oral dari seorang guru ke murid. Inilah yang pada dunia seni suara sunda disebut tembang dan di jawa disebut macapat (Natapradja:2003).
            Pada kenyataannya walaupun disebut Tembang Cianjuran namun bukan termasuk kedalam jenis sekar wirahma merdeka . Tembang Cianjuran merupakan golongan sekar tandak atau biasa disebut kawih. Penamaan “tembang” hanyalah lazimnya orang sunda menyebut jenis kawih ini. Jadi, jangan terjebak dengan penamaan “tembang” pada Tembang Cianjuran.


  • istoris Tembang Cianjuran
            Kesenian Tembang Cianjuran telah ada sejak zaman kolonialisme yang datang ke nusantara. Di tempat kelahirannya Cianjur,sebenarnya nama kesenian ini adalah mamaos. Dinamakan tembang Sunda Cianjuran sejak tahun 1930-an dan dikukuhkan tahun 1962 ketika diadakan Musyawarah Tembang Sunda sa-Pasundan di Bandung. Seni mamaos merupakan seni vokal Sunda dengan alat musik kacapi indung, kacapi rincik, suling, dan atau rebab. Mamaos terbentuk pada masa pemerintahan bupati Cianjur RAA. Kusumaningrat (1834-1864). Bupati Kusumaningrat dalam membuat lagu sering bertempat di sebuah bangunan bernama Pancaniti. Oleh karena itulah dia terkenal dengan nama Kangjeng Pancaniti. Pada mulanya mamaos dinyanyikan oleh kaum pria. Baru pada perempat pertama abad ke-20 mamaos bisa dipelajari oleh kaum wanita. Hal ituTerbukti dengan munculnya para juru mamaos wanita, seperti Rd. Siti Sarah, Rd. Anah Ruhanah, Ibu Imong, Ibu O’oh, Ibu Resna, dan Nyi Mas Saodah (kurnia:2003)
Bahan mamaos berasal dari berbagai seni suara Sunda, seperti pantun, beluk (mamaca), degung, serta tembang macapat Jawa, yaitu pupuh. Lagu-lagu mamaos yang diambil dari vokal seni pantun dinamakan lagu pantun atau papantunan, atau disebut pula lagu Pajajaran, diambil dari nama keraton Sunda pada masa lampau. Sedangkan lagu-lagu yang berasal dari bahan pupuh disebut tembang. Keduanya menunjukan kepada peraturan rumpaka (teks). Sedangkan teknik vokal keduanya menggunakan bahan-bahan olahan vokal Sunda. Namun demikian pada akhirnya kedua teknik pembuatan rumpaka ini ada yang digabungkan. Lagu-lagu papantunan pun banyak yang dibuat dengan aturan pupuh.
Pada masa awal penciptaannya, Cianjuran merupakan revitalisasi dari seni Pantun. Kacapi dan teknik memainkannya masih jelas dari seni Pantun. Begitu pula lagu-lagunya hampir semuanya dari sajian seni Pantun. Rumpaka lagunya pun mengambil dari cerita Pantun Mundinglaya Dikusumah.
.
Pada masa pemerintahan bupati RAA. Prawiradiredja II (1864-1910) kesenian mamaos mulai menyebar ke daerah lain. Rd. Etje Madjid Natawiredja (1853-1928) adalah di antara tokoh mamaos yang berperan dalam penyebaran ini. Dia sering diundang untuk mengajarkan mamaos ke kabupaten-kabupaten di Priangan, di antaranya oleh bupati Bandung RAA. Martanagara (1893—1918) dan RAA. Wiranatakoesoemah (1920-1921 & 1935-1942). Ketika mamaos menyebar ke daerah lain dan lagu-lagu yang menggunakan pola pupuh telah banyak, maka masyarakat di luar Cianjur (dan beberapa perkumpulan di Cianjur) menyebut mamaos dengan nama tembang Sunda atau Cianjuran, karena kesenian ini khas dan berasal dari Cianjur. Demikian pula ketika radio NIROM Bandung tahun 1930-an menyiarkan kesenian ini menyebutnya dengan Tembang Cianjuran (kurnia:2003).
Pemain kesenian yang disebut sebagai Tembang Cianjuran terdiri atas: seorang pemain kacapi indung yang tugasnya adalah memberi pasieup, narangtang, pangkat lagu, dan memngiri lagu baik mamaos mamupun panambih; satu atau dua orang pemain kacapi rincik yang bertugas membuat hiasan pada iringan kacapi indung ketika penembang membawakan panambih; sementara yang satunya lagi bertugas sebagai anggeran wilatan (memberi batasan-batasan ketukan); seorang pemain suling yang bertugas membuat hiasan-hiasan lagu di sela-sela kekosongan sekaran (vokal) dan memberi lelemah sore (dasar nada); dan penembang yang membawakan berbagai jenis lagu mamaos cianjuran. Sebagai catatan, lagu panambih hanya dilantunkan oleh penembang wanita. Adapun busana yang dikenakan oleh pemain laki-laki adalah baju taqwa, sinjang (dodot), dengan benggol sebagai aksesorisnya. Sedangkan, pakaian yang dikenakan oleh para pemain wanitanya adalah: kebaya, sinjang, dan selendang (Galba:2007).
Fungsi kesenian yang disebut sebagai Tembang Cianjuran adalah sebagai hiburan. Sedangkan, nilai yang terkandung di dalamnya tidak hanya sekedar estetika semata, tetapi juga kerjasama dan kreativitas. Nilai kerjasama tercermin dalam suatu pementasan. Dalam hal ini jika penembang laki-laki beristirahat, maka penembang perempuan tampil mengisinya. Dengan demikian, suasana tidak vakum tetapi berkesinambungan. Nilai kreativitas tidak hanya tercermin dari keterampilan para pemainnya dalam sisindiran, tetapi juga dalam pengadopsian jenis-jenis kesenian lain (degung) tanpa menghilangkan rohnya (jatidiri kesenian mamaos cianjuran).
Namun dewasa ini kehebatan dan keindahan dari seni Tembang Cianjuran sudah mulai melemah tergerus arus globalisasi. Hal itu tercermin dari kurangnya nara sumber, tingkat apresiasi masyarakat yang semakin kurang dan enggannya generasi muda untuk mempelajarinya karena dianggap sebagai kuno atau kampungan. Mereka lebih menyukai jenis-jenis kesenian kontemporer.
BAB V
NILAI-NILAI DALAM RUMPAKA TEMBANG CIANJURAN
  • Nasihat dan Doa
Rumpaka dalam istilah Indonesia merupakan teks dari lagu, atau syair-syair dalam lagu. Dalam rumpaka Tembang Cianjuran berisi nilai-nilai seperti nasihat dan doa. Nasihat dan doa ini dilihat dari sudut komunikasi memiliki kemiripan yakniadanya tujuan pengungkapan yang disampaikan pada pendengar. Nasihat adalah harapansupaya isi pesan rumpaka sampai kepada pencengar dan doa, harapan yang dipohonkan kepada Tuhan.
Rumpaka digubah oleh seorang penggubah, selanjutnya ditembangkan oleh sejumlah penembang/ juru mamaos/juru tembang. Dalam hal ini juru tembang setuju dengan isi rumpaka kemudian ingin menyampaikannya kembali kepada pendengar, termasuk pula rumpaka yang berisi doa. Penembang pada umumnya memilih pula isi kandungan dari rumpaka. Apabila nasihat dilihat dari segi saling menasihati antar-manusia dan permohonan doa disampaikan kepada Tuhan, keduanya berada dalam wilayah religius. Nasihat merupakan
Hablum Minanas dan Doa merupakan Hablum Minallah. Amanat yang disampaikan melalui
lantunan tembang terasa lebih hidmat baik dirasakan oleh penembang maupun didengar oleh
penikmat.
Dilihat dari segi historis, unsur nasihat dan doa yang berada dalam wilayah religius ini
memiliki kedudukan penting pada Rumpaka Tembang Cianjuran. Perintis awal Tembang
Cianjuran adalah Dalem Pancaniti, seorang taat beragama, bahkan ada yang menganggap ”Alima al-alamah (ulama pandai), mencapai Waliyullah ((Su’eb, 1997: 36). Pernyataan tersebut sejalan
dengan keterangan yang disampaikan oleh Dadan Sukandar bahwa sebelum tahun
enampuluhan Tembang Cianjuran mengusung tentang hal keteladanan. Bukti-bukti itu tersirat
pula pada sebuah pada pupuh Sinom Liwung yang diterima oleh R. Bakang Abubakar dari
gurunya pada tahun 1949 sebagai berikut:


Sinom pamekaring rasa
Rasa Suci kang diwincik
racikan ungkara basa
basa pamekaring budi
budi daya nastiti
nutur galuring luluhur
babaran kaelingan
digending dirakit dangding
komaraning daya sastra Kasundaan
(Ischak, 1988: 63)
Sinom pemekar rasa
yang dibahas, Rasa Suci
jalinan bahasa
bahasa pemekar budi
budi yang tangguh karena kehati-hatian
mengikuti jejak leluhur
tentang keimanan
dijadikan tembang digubah dangding
kewibawaan dari kekuatan sasat r
Kasundaan


Diperkirakan rumpaka ini telah ada jauh sebelum tahun 1949. Dalam pupuh ini ada tanda
yang kuat yakni Rasa Suci, Rasa Suci mengacu kepada Inti Kedirian manusia yang
dianugrahkan Tuhan yakni Nurullah atau disebut juga Badan Rohani (Lihat dalam Wawacan
Jaka Ula Jaka Uli). Kata kedua yakni babaran kaelingan ’pembahasan tentang keimanan’.
Pengertian eling ’iman’ dalam naskah-naskah ajaran Teosofi Tasawuf adalah Manunggaling
kaula-Gusti. Menghadirkan Allah di dalam Badan Rohani’ Pupuh ini berceritera tentang
ajaran keimanan yang menuntun manusia ke arah kebahagiaan lahir dan batin. Namun
apabila dihubungkan dengan judul lagu yakni Liwung, tidak sesuai. Dengan demikian
diperkirakan ada lagu pemakai rumpaka ini sesuai isi. Dilihat dari rumpaka di atas, jelaslah
kekuatan dari kesusastraan Sunda pada suatu masa, dilihat dari segi bobot isinya (kalsum:2007)
            rumpaka-rumpaka lain Tembang Cianjuran yang diambil dari rumpaka pupuh yang berisi nasihat serta mengarah pada kebajikan antara lain :


Pucung Degung
Lamun urang boga maksud kudu junun
kahayang jeung prakna
mun sakadar dina hate
eta mubah moal rek aya buktinya.     (Sobirin, 1987: 46)

Apabila bercita-cita sesuatu harus tabah
berkeinginan dengan bekerja
apabila sekadar niat di hati
sia-sia tak akan ada hasilnya


Naratas jalan

Geura bral geura mariang
geura prak naratas jalan
teangan kasugemaan
enggoning keur kumelendang
kumelendang masing yakin
dibarengan kaimanan
yakin kana pamadegan
tangtungan wanda sorangan
tapi poma 2x lain laku kaangkuhan.
Kaangkuhan anu mawa
kana jalan kaambrukan
hirup teh lain sorangan
loba pisan nu marengan
keur urang silih tulungan
lain eukeur pacengkadan
nu taya hartina pisan
nimbulkeun pondok harepan
ilang akal keur ngudag-udagan urang
(Sobirin, 1987: 85)

Silakan berangkatlah
buka jalan
cari kepuasan
selama berkelana
dalam berkelana disertai keyakinan
disertai keimanan
yakin pada pendirian
keyakinan hati nurani
namun janganlah disertai keangkuhan
Keangkuhan membawa
ke jalan kebinasaan
(sadari) hidup tidak sendiri
banyak sekali sesama manusia
untuk saling tolong-menolong
bukan untuk berselisih
yang tak bermanfaat
yang menimbulkan pendek pikiran
kehilangan akal yang akan menyertai kita



Naratas Jalan Surupan Pelog, pupuh Sinom. Kedua bait merupakan kesatuan yang
mendukung pada judul Naratas Jalan ’Membuka Jalan’. Apabila dikaitkan dengan
penggunaan pupuh, ”membuka jalan” pada konteks ini, memiliki makna membuat pijakan
hidup dalam mencari kebahagiaan untuk diteladani oleh orang-orang kemudian. Teks
Naratas Jalan dipandang dari sudut arti sebagai satu rangkaian informasi, tentang menjalani
kehidupan.Rumpaka ini mengemukakan bahwa hidup dengan sesama untuk saling tolong-menolongbukan untuk berselisih. Teks hipogram dalam pupuh Pucung seperti berikut: Utamana jalmakudu rea batur, keur silih tulungan, silih asih silih bere, budi akal lantaran ti pada jalma.
’Yang paling utama orang harus memiliki kawan banyak, untuk saling menolong, saling
memberi, budi dan akal melalui sesama manusia.’(Kalsum:2007).
            Rumpaka-rumpaka diatas merupakan sebagian kecil contoh dari Tembang Cianjuran yang selalu memiliki intisari kebajiakan, nasihat, doa, dan mengajak manusia untuk mencapai kemuliaan. Selain diatas ada pula cirebonan ‘bermakna manusia harus sigap dalam melakukan kebaikan’, ceurik abdi’menceritakan bahwa di dunia semua hal selalu berpasangan’, sinom bungur’mengingatkan pada manusia dalam berkehidupan tidak bisa sewenang-wenang serta egois’, pangrawit’ dalam berkehidupan manusia harus tahu mana yang benar dan yang salah serta selalu menjaga diri’ dan masih banyak rumpaka pupuh lainnya.
            Sudah dapat dipastikan bahwa Tembang Cianjuran sangat mengarah dan mengajarkan manusia sebagai mahkluk yang bermoral. Membimbing kepada kebaikan, saling mendoakan antar sesama, menjaga kelestarian alam, dan permohonan kepada sang pencipta. Hal ini tentunya jarang sekali ditemukan pada teks lagu populer zaman sekarang. Teks dalam gubahan lagu populer kebanyakan menceritakan mengenai realita percintaan anak remaja, putus cinta, perselingkuhan, pengorbanan cinta, pacaran, dan segala sesuatu yang sangat dekat dengan kehidupan remaja zaman sekarang.
 

BAB VI
PENUTUP
6.1. KESIMPULAN
            Tembang Cianjuran telah ada sejak masa pemerintahan pada zaman penjajahan. Kesenian ini adalah karya orsinil dari masyarakat Indonesia khususnya orang sunda. Tembang Cianjuran merupakan karya seni yang berkaitan erat dengan pakem karawitan sunda. Rumpaka atau teks lagu pada Tembang Cianjuran berisi nasihat, do’a, dan segala sesuatu yang mengajak manusia dalam hidup di dunia selalu berada di jalan yang lurus yaitu jalan yang di ridhai Tuhan sang pencipta. Namun dewasa ini Tembang Cianjuran yang dulu sangat fenomenal dikalangan bangsawan sudah mulai tergerus oleh arus globalisasi dan generasi muda yang semakin kurang berminat serta peduli untuk melestarikan salah satu kekayaan bangsa Indonesia ini.
6.2. SARAN
            Penulisan karya tulis ini tentunya masih banyak kekurangan, untuk itu kritik dan saran yang diberikan akan sangat berharga bagi penulis untuk menyempurnakan kajian penulisan karya tulis ini di kemudian hari.

DAFTAR PUSTAKA

Galba, Sindu. 2007. Kesenian Tradisional Masyarakat Cianjur.
Kalsum. 2007. Nasihat dan Doa pada Tembang Cianjuran.
Natapradja,Iwan. 2003. Sekar Gending. Bandung:Karya Cipta Lestari.
Sobirin, 1987. Lagu-Lagu Mamaos Tembang Sunda Laras Pelog dan Sorog : Stensilan.
Su’eb, Ace Hasan. 1997. Wawasan Tembang Sunda. Bandung : Geger Sunten.


[1] Titilaras merupakan sistem pelarasan/aturan pakem dalam karawitan sunda.